Cerbung | IMPIAN BOLA BASKET PART 5

Impian-Bola-BasketSesuai dengan permintaan dan desakan Rio belakangan ini, Gabriel akhirnya menelepon Alvin agar dia bisa berkunjung ke rumahnya hari ini. Selagi mereka tidak di sekolah, mereka bisa berbicara baik-baik tentang masalah pribadi mereka itu. Untungnya, Alvin mempunyai pikiran yang sama, sehingga tanpa banyak basa-basi lagi, dia langsung berangkat menuju rumah si kembar itu. Baca lebih lanjut

Cerbung | IMPIAN BOLA BASKET PART 4

“Kau menungguku?”

Laki-laki yang semula hendak meninggalkan lapangan langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Ia mendapati seseorang yang sudah ditunggunya dari tadi telah berdiri di hadapannya dengan baju santai. Sama sekali tidak tampak seperti orang yang sudah siap diajak bermain basket. Ia tersenyum sinis menatap orang tersebut. “Ternyata kau tidak kabur, Chase Karayne.”

Cakka terdiam sejenak karena kaget mendengar namanya disebut. Padahal, mereka belum saling berkenalan. Namun, beberapa saat kemudian, dia kembali tersenyum mendengarnya. “Untuk apa aku kabur?”

“Karena kau memang tidak pantas jadi kapten basket.” katanya lagi. Ia berjalan mendekati orang tersebut dan menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Huh, Kau bahkan tak memakai baju basket.”

“Maaf, tapi aku hanya ingin menunda pertandingan.” kata Cakka.

“Hanya pecundang yang melakukan hal seperti itu terhadap suatu tantangan.” kata laki-laki itu. “Tapi, kurasa kau memang salah satu dari mereka. Loser.”

Cakka hanya tersenyum mendengar hinaannya. Semua orang juga tahu kalau kata-kata seperti itu hanya keluar dari mulut orang yang memiliki rasa dengki dan iri kepada orang lain. Dan Cakka tidak pernah merasa kata-kata seperti itu perlu jawaban. Tanpa banyak bicara, ia langsung berbalik badan untuk segera meninggalkan lapangan.

“Verrell Simonius Charell.” Seru laki-laki itu tiba-tiba dengan nyaring. “Kapten basket SMPN 1.”

Cakka hanya diam mendengar ucapan itu. Entah apa maksudnya dia mengucapkan kata-kata itu. Ia menoleh kembali ke arah laki-laki tersebut dan tersenyum sejenak. “Salam kenal.”

Setelah itu, Cakka benar-benar pergi dari lapangan itu untuk segera pulang sebelum Ayah mengetahui dia pergi keluar rumah di saat jam tiga sudah berlalu. Sementara Verrell, laki-laki itu, tetap berdiri di tempatnya menatap kepergian juniornya itu. Ia tersenyum sinis melihat punggungnya yang semakin menjauh.

J L J

Gabriel dan Rio langsung masuk ke kamar begitu selesai melahap makan malam. Seharusnya mereka mengerjakan tugas sekolah seperti jadwal mereka sehari-hari, namun tampaknya hari ini mereka sama sekali tidak mempunyai niat untuk itu. Mereka justru sibuk dengan pikiran masing-masing. Gabriel berbaring di tempat tidurnya sambil menatap langit-langit. Sementara Rio hanya diam di kursi belajarnya, menghadap ke arah kakak kembarnya.

Rio menghela napasnya. “Kau memikirkan perkataan Cakka, Yel?”

Gabriel menoleh ke arah Rio. “Ya. Kau juga mengkhawatirkannya, bukan?”

Rio mengangguk. Wajahnya menunjukkan raut wajah cemas. “Kurasa dia benar-benar serius dengan ucapannya waktu itu. Padahal, kejadian itu sudah berlalu cukup lama.”

“Ah, untuk orang seperti dia, seabad pun tidak cukup untuk menghapus dendamnya, Yo.” kata Gabriel. “Tapi, aku tidak habis pikir, dulu dia yang menyebabkan semuanya terjadi. Tapi, kita yang disalahkan!”

“Lalu, bagaimana dengan Cakka? Dia tidak tahu apa-apa tentang hal ini.”

Gabriel diam. Ia menunduk. Benar, teman baru mereka tersebut benar-benar tidak tahu kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu. Gabriel jelas tidak mau dia juga sampai terlibat karena dia telah menjadi bagian dari mereka.

“Yel?” panggil Rio pelan.

Gabriel mengangkat kepalanya kembali. “Aku yakin Cakka bisa mengalahkan dia, Yo. Semoga saja tidak ada masalah lagi setelah ini. Atau semuanya akan berantakan.”

“Ya, kau ingat bukan, apa katanya waktu itu?” tanya Rio.

Gabriel mengangguk. Pikirannya melayang menuju saat-saat mereka baru saja baru masuk sekolah. Saat mereka baru saja pulang dari pertandingan di sekolah. Waktu itu, mereka adalah anggota basket yang pulang paling terakhir, sehingga sekolah sepi. Dan dia tiba-tiba muncul di depan sekolah.

J L J

“Well, well, ternyata kalian berdua juga masih ada di sini.”

Seseorang tiba-tiba menghampiri Gabriel dan Rio ketika mereka akan segera pulang ke rumah. Mereka berdua spontan berhenti begitu mendengar suara tersebut. Suara itu jelas tak asing. Dan mereka tak menyangka dia akan datang lagi. Walaupun teman lama, tapi mereka jelas tidak ingin bertemu dengannya lagi setelah dia pindah sekolah.

“Kau…” Gabriel dan Rio hampir bersamaan bergumam menatap laki-laki yang tengah menghampiri mereka.

“Kenapa? Kaget?” tanya orang itu sambil tersenyum sinis. “Gabriel dan Mario Astroken. Ternyata, setelah aku pergi dari sekolah ini, kalian justru depresi karena tak memiliki kapten basket yang handal sepertiku.”

Gabriel diam mendengar perkataannya. Ia berusaha menahan emosinya dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sementara Rio menatap orang itu dengan tajam. Ternyata, orang itu masih tetap menyebalkan seperti dulu.

“Apa maumu?” kata Rio dengan nada yang datar.

“Oh, tidak. Aku hanya ingin melihat kapten basket jelek seperti apa yang memimpin tim basket kita.” katanya lagi. “Aku yakin dia tidak memiliki kemampuan sepertiku.”

“Oh ya, memang. Kapten basket kita yang sekarang justru JAUH LEBIH BAIK daripada kau, manusia egois!” kata Gabriel nyaring. Ia benar-benar emosi menghadapi manusia macam laki-laki itu.

Laki-laki itu tersenyum sinis. “Baik, kita lihat apakah ucapanmu benar nanti. Aku yakin tim basket kalian jelas akan kalah dari tim basketku! Lihat saja! Hahaha…”

Laki-laki itu segera meninggalkan Gabriel dan Rio sambil tertawa meremehkan. Rio yang berada di sampingnya langsung menepuk pundak Gabriel pelan. “Sudahlah, Yel. Dia memang tidak pernah berubah. Ayo kita pulang.”

Gabriel mengangguk, kemudian mereka langsung meninggalkan sekolah.

J L J

“Aku benar-benar kesal dengan ucapannya waktu itu.” kata Gabriel. Emosinya mulai naik lagi karena mengingat kejadian menyebalkan waktu itu.

“Ya, aku juga. Tapi, tak ada gunanya kita emosi. Dia akan semakin senang melihat kita putus asa.” kata Rio.

Gabriel menghela nafasnya, berusaha tenang, kemudian mengangguk mengiyakan ucapan Rio. “Ya, aku tahu kau benar.”

“Tapi, Yel, kita belum lama mengenal Cakka dan kakaknya. Kau dengar apa yang dikatakan Kak Biru tadi saat jam istirahat?” tanya Rio. “Aku penasaran dengan kata-katanya tentang ketahuan Ayah pergi bermain basket. Jangan-jangan selama ini mereka bermain basket tanpa persetujuan orang tua.”

“Ah, itu bukan urusan kita, Yo. Cakka pasti bisa mengatasinya sendiri,” kata Gabriel. “Aku justru lebih khawatir tentang mantan kapten basket kita itu.”

“Dia pasti mencari data tim basket dari web sekolah kita,” kata Rio. Ia segera menopang dagunya dengan kedua tangannya. “Kurasa Alvin juga harus tahu tentang hal ini. Dia pasti juga sudah tahu siapa yang mengajak Cakka ke lapangan itu.”

Gabriel diam, ia menghela nafasnya gelisah. “Entahlah, Yo. Aku tidak yakin.”

Rio menatap kakaknya diam. Kemudian, dia langsung meraih tas sekolahnya untuk mengambil buku agenda sekolahnya. Beberapa saat kemudian, dia langsung mengambil beberapa buku dari dalam tas dan menaruhnya di atas meja. “Lebih baik kita selesaikan tugas sekolah dulu. Ini lebih penting.”

“Ah ya, benar juga. Bisa gawat kalau tidak selesai.” Gabriel langsung beranjak dari tempat tidurnya dan segera melakukan hal yang sama dengan Rio. Dia menaruh buku-bukunya di meja dan mengerjakan tugas di samping Rio.

J L J

Biru sedang menyeduh teh di dapur ketika Bunda menghampirinya. Saat itu, Biru benar-benar butuh penyegaran. Hari-hari sekolahnya mulai terasa memusingkan setelah banyaknya tugas dan juga masalah-masalah yang harus segera ia atasi. Terlebih masalah Cakka. Sebentar lagi Ayah pulang, tapi Cakka belum muncul juga. Padahal, tadi dia sudah berjanji hanya akan keluar sebentar untuk membatalkan perjanjian dengan anak basket yang tak ia kenal itu.

“Kau memikirkan Cakka, Bi?” tanya Bunda sambil tersenyum ketika ia sudah ada di samping putrinya.

Biru menoleh begitu mendengar suara Bunda. Kemudian, ia mengangguk. “Aku hanya takut Ayah marah dengan kita lagi. Selama ini Cakka hanya ingin mengejar cita-citanya. Seharusnya dia tidak harus menempuh semua ini.”

“Iya, Bunda mengerti maksudmu, Bi.” kata Bunda sambil tersenyum.

“Bunda sudah bertanya kepada Ayah tentang hal ini?”

Bunda mengangguk. “Bunda sudah berusaha. Tapi, Ayah tidak mau menceritakan sebenarnya apa yang terjadi. Dia hanya berkata kalau basket hanya bisa mengancam nyawa kalian.”

Biru menghela nafasnya lelah. Lagi-lagi jawaban tidak jelas.

Bunda tersenyum. “Ayah kalian tidak bermaksud buruk. Bersabarlah. Nanti Bunda pasti akan berusaha membujuknya kembali untuk meringankan peraturannya. Bunda tahu kalian sangat senang dengan basket.”

Biru mengangguk. Ia tersenyum. “Terima kasih, Bunda.”

Bunda tersenyum mendengarkan penuturan Biru, kemudian segera mengambil cangkir baru untuk membantu putrinya tersebut menyeduh teh. Biru yang menyadari gerak-gerik Bunda langsung menatapnya dengan dahi berkerut. “Teh untuk siapa, Bunda?”

“Ayah. Dia pasti sebentar lagi pulang.” kata Bunda sambil tersenyum.

Biru menoleh ke arah jam dinding yang berada di dapur. Benar, jam sudah menunjukkan jam empat sore. Itu artinya Ayah pasti sudah dalam perjalanan pulang. Perjalanan dari kantor menuju rumah memakan sekitar satu jam. Ia menghela nafasnya, membuang semua kekhawatiran yang ia rasakan.

“Kau tak perlu khawatir, semuanya pasti akan baik-baik saja, Bi,” kata Bunda sambil menepuk-nepuk pelan punggung Biru. “Ayah tidak sejahat yang kau pikirkan.”

Biru menghela nafas sekali lagi, kemudian menghadap ke arah Bunda. “Ya, aku tahu, Bun. Tapi, aku bingung bagaimana caranya agar Ayah tidak meledak.”

“Walaupun akhirnya nanti Ayah meledak, kita masih mempunyai Bunda yang baik hati.” Tiba-tiba Elang masuk ke dalam dapur dan ikut dalam pembicaraan. Kemeja kotak-kotak yang ia pakai untuk kuliah tadi siang masih melekat di tubuhnya.

Biru dan Bunda segera menoleh melihat kehadiran Elang. Biru tersenyum mendengar ucapannya. “Sejak kapan kau di sini? Kau diam-diam mendengar pembicaraan kami. Kau tahu itu tidak baik, Kak.”

“Ah, Aku baru saja pulang dan hanya berniat untuk mengambil minum.” kata Elang sambil tertawa. “Tapi, aku benar, bukan? Walaupun kita memiliki Ayah yang tegas, kita juga memiliki Bunda yang sangat menyayangi kita.”

“Tentu saja. Aku sangat menyayangi Bunda,” kata Biru langsung memeluk Bunda dari samping. “Hei, bagaimana dengan ambil nilaimu? Berjalan lancar? Kau terpilih tidak untuk mengikuti lomba?”

Elang menggeleng. “Sayangnya tidak. Kali ini temanku lebih beruntung karena dia menampilkan sesuatu yang unik. Kata dosen, mungkin lain kali ada kesempatan bagi yang tidak terpilih.”

Bunda tersenyum. “Dosenmu benar. Yang penting kau terus berusaha.”

Elang mengangguk setuju. “Aku ingin tahu reaksi Ayah tentang hal ini.”

“Entahlah, dia bisa meledak, bisa juga tidak. Kau bukannya tak tahu Ayah itu seperti bunglon.” kata Biru sambil tertawa. “Aku penasaran sebenarnya bagaimana caranya Ayah yang tegas seperti Ayah kita mendapatkan hati Bunda dulu.”

“Ah, zaman itu sudah lama sekali. Aku berani jamin sebelum Ayah dan Bunda menikah, Ayah sangat baik kepada Bunda. Zaman kita dan zaman mereka sudah sangat berbeda, Bi.”

“Aduh, kalian berbicara sembarangan. Sudah, lebih baik kalian mandi dulu. Sebentar lagi Cakka dan Ayah pasti tiba di rumah.” kata Bunda sambil tertawa gugup. Kedua pipinya memerah mendengarkan pembicaraan anak-anaknya.

Elang dan Biru tertawa melihat wajah Bunda yang memerah. Kemudian, mereka langsung pamit untuk ke kamar. Tak lupa Biru juga membawa teh yang sudah ia buat ke dalam kamar. Setelah mandi ia akan meminumnya. Dapur kembali sepi begitu mereka meninggalkan Bunda sendiri di sana. Sambil melamun, Bunda melanjutkan aktivitasnya.

Benar juga, Elang dan Biru mengingatkannya pada perlakuan Ayah pada zaman dahulu kala. Ketika mereka masih remaja seperti anak-anaknya, Ayah sama sekali tidak memiliki sifat tegas yang berlebihan seperti sekarang. Dia sangat baik kepada siapapun. Dari pembicaraan Elang dan Biru tersebut, Bunda menjadi semakin yakin kalau Ayah pasti menyembunyikan alasan tertentu mengapa dia membuat peraturan yang begitu ketat untuk ketiga anak mereka. Mungkin saja Ayah belum siap bercerita.

J L J

“CRAG Team! CRAG Team! CRAG Team!”

Suasana lapangan basket sekolah waktu itu sangat ramai dengan sorakan-sorakan para murid yang sedang menyaksikan CRAG Team bertanding melawan beberapa anak basket yang dipilih langsung oleh Pak Jo. Jam istirahat yang biasanya ramai dengan anak-anak yang makan di kantin, kini berpindah ke lapangan karena rasa antusias mereka melihat aksi Cakka dan teman-temannya. Makanan yang telah mereka beli sampai mereka bawa ke sana.

“Berikan padaku, Yel!” Ray berseru nyaring ketika melihat temannya sedang kesusahan melewati para lawan yang sedang menghadangnya. Dengan cepat Gabriel menuruti Ray yang berdiri cukup jauh darinya.

“Bersiap, Kka!” seru Rio kepada Cakka yang masih di tengah lapangan. Sementara ia langsung mendekatkan posisinya dengan posisi Ray agar posisi amannya tetap terjaga. Lawan mereka kali ini bukanlah lawan main-main, walaupun mereka bukan anggota tim inti, mereka juga mahir dalam merebut bola.

“Kalian tidak akan bisa merebut bolaku!” Ray melakukan berbagai teknik mengecoh untuk menghindar lawan, kemudian melempar bola basketnya dengan cepat ke tangan Cakka begitu lawan terakhir yang menghadang mencoba merebut bolanya. Ray tersenyum dan berseru keras begitu Cakka menangkap bolanya. “Shoot!!

“Hup!” Cakka berlari dengan kencang menuju ring milik timnya dan melakukan slam dunk untuk mencetak angka. Semua murid yang menonton di sana langsung berteriak senang dan histeris. Begitu Cakka melepaskan pegangannya dari ring, ia langsung diserbu oleh para anggota tim inti. Mereka saling toss sejenak, kemudian langsung konsentrasi kembali dengan pertandingan.

“Ayo CRAG Team! Kejar skor lawan! Dua angka lagi!” Para siswi yang ada di sana dengan semangatnya berseru, seakan-akan memberikan energi lebih untuk para anggota CRAG Team untuk bertanding.

Ya, sejak tadi CRAG Team sangat total mengeluarkan tenaga mereka untuk segera mengejar angka karena mereka sempat tertinggal sembilan poin karena mereka terlalu lengah dalam menjaga bola. Untungnya mereka dapat mengejar sedikit demi sedikit. Sesuai dengan teriakan para supporter tadi, hanya tinggal dua angka lagi yang harus dikejar. Papan skor masih menunjukkan 19-21 untuk keunggulan tim lawan.

“Dua puluh detik lagi!” seru Pak Jo sekeras-kerasnya dari pinggir lapangan.

Cakka yang mengetahui hal itu langsung memberi instruksi kepada teman-temannya. “Yo! Berikan pada Gabriel! Ray harus shoot jarak jauh!”

“Tangkap, Yel!” Tanpa banyak bicara, Rio langsung mengoper bola basketnya ke arah Gabriel dan langsung menjaga lawan yang hendak menghadang jalan Gabriel menuju ring. Cakka juga melakukan hal yang sama untuk menjaga posisi aman Ray di tengah lapangan seiring Gabriel mendekat.

“Ray!” seru Gabriel sambil memberikan bola basket kepada Ray. Kemudian, Ray langsung melakukan tembakan tiga angka. Bola basket itu tidak langsung masuk dengan mulus, ia justru sibuk mengelilingi ring untuk beberapa saat. Semua yang ada di sana langsung berharap-harap cemas. Sebagian besar anak-anak yang menonton mengatupkan tangannya seolah memohon kepada bola tersebut untuk masuk, bahkan ada juga menutup matanya dan berdoa. Penentuan menang dan kalah akan segera ditentukan oleh kemana bola itu akan berakhir. Mental dari ring atau justru masuk?

Ray menelan ludahnya menatap bola basket yang ia lempar. Ia tidak banyak berharap kepada bola basket itu. Baginya tidak masalah jika kalah saat latihan, asal saat pertandingan yang sesungguhnya nanti, CRAG Team bisa total. Tapi, tetap saja denyut jantungnya menjadi cepat dalam situasi tegang ini.

Cakka dan teman-temannya menghela nafas setelah bola basketnya memutuskan untuk menyingkir dari ring, bersamaan dengan terdengarnya sorakan-sorakan kembali dari anak-anak yang menonton. Namun, bukan sorakan bahagia. Mereka jelas tidak senang CRAG Team harus menerima kekalahan.

“Dengan ini dinyatakan bahwa tim Obiet memenangkan pertandingan hari ini!” seru Pak Jo dengan keras. “Terima kasih untuk para anak basket yang telah berjuang keras. Kalian yang kalah tidak perlu kecewa, tetap latihan terus!”

Tim lawan langsung meloncat-loncat girang begitu mendengar mereka telah menang melawan CRAG Team. Setelah itu, mereka langsung menghampiri Cakka dan teman-temannya yang masih tampak terdiam di tengah lapangan. Obiet, salah satu dari tim lawan mengulurkan tangannya kepada mereka.

“Ada apa?” tanya Ray menatap uluran tangan Obiet.

“Kalian hebat. Aku benar-benar terkejut bisa menang. Padahal, kalian adalah anak-anak basket yang paling mahir di sekolah.” katanya sambil tersenyum. “Kapan-kapan ayo kita bertanding bersama lagi.”

“Ya, tentu saja, Biet.” kata Gabriel tersenyum.

Semua anggota CRAG Team tersenyum senang mendengar ucapan Obiet. Kemudian, satu per satu menyalami Obiet. Tak lupa Obiet juga menepuk satu per satu pundak mereka. Persahabatan antar anak basket memang sangat hebat. Mereka memang rival saat bertanding, tapi setelah itu mereka tetap bersahabat.

“Aku beristirahat dulu. Kalian sebaiknya beristirahat juga. Kalian pasti lelah.” kata Obiet. Obiet langsung berlari menghampiri teman-temannya. Sementara Cakka dan teman-temannya beristirahat di pinggir lapangan. Barang-barang penting mereka terkumpul di salah satu bangku panjang yang ada di sana.

Ray dan Gabriel langsung menyambar botol minum mereka masing-masing dan meneguknya sampai setengah botol. Sementara Rio dan Cakka sibuk menghapus peluh yang sudah membasahi wajah mereka. Alvin hanya duduk sambil mengatur nafasnya, melepas kelelahan.

“Kau tahu, Ray, idemu tentang pertandingan ini sungguh hebat.” kata Alvin membuka pembicaraan. Benar, penggagas pertandingan saat jam istirahat hari ini adalah Ray. Dia sepertinya ingin menebus rasa tidak relanya kemarin saat kalah dengan Gabriel dengan pertandingan hari ini. Makanya, Cakka dan teman-temannya meminta bantuan Pak Jo untuk memanggil anak-anak basket yang menurutnya mahir. Dan karena pemanggilan anak-anak basket tersebut sampai di telinga banyak orang, semuanya langsung ikut menonton mereka bertanding.

“Tak ada yang lebih hebat daripada latihan tambahan untuk anak-anak basket.” kata Ray setelah selesai minum. “Lagipula, bagus juga untuk menghibur teman-teman kita, bukan?”

“Aku hampir melongo ketika melihat sebagian besar anak-anak membawa makanan mereka demi menonton pertandingan.” kata Gabriel menambahkan setelah menelan air yang menggumpal di mulutnya. “Kurasa kita akan cepat terkenal.”

“Ah, kita ini anak basket. Bukan artis. Yang harus kita harapkan adalah menjadi pebasket yang baik, bukan jadi terkenal.” kata Rio. “Bukankah kita hanya mengincar DBL?”

Gabriel tertawa. “Benar sekali, Yo.”

Cakka hanya tersenyum mendengar celotehan teman-teman satu timnya. Ia memasukkan kembali handuk kecilnya ke dalam tas dan segera meneguk air minum untuk menyegarkan tubuhnya. Ia benar-benar lelah setelah bertanding.

“Cakka…”

Cakka menoleh ketika mendengar suara seseorang memanggilnya. Di belakangnya berdiri beberapa siswi yang membawa beberapa makanan ringan di tangan mereka.

Siswi-siswi itu langsung memberikan makanan ringan tersebut kepadanya. Salah satu dari mereka berseru, “Ini semua untukmu. Kau pasti lelah dari pertandingan tadi. Makanlah.”

“Walaupun kalian kalah, kami tetap mendukung CRAG Team,” yang lainnya ikut menambahkan. “Kalau kalian bertanding di sekolah lain, kami ingin menonton untuk mendukung kalian.”

Cakka tersenyum ramah. Tangannya pelan-pelan mengambil satu per satu makanan yang diberikan mereka, kemudian menaruh semua makanan tersebut di sampingnya. “Terima kasih. Kami akan melakukan yang terbaik.”

Para siswi tersebut tampak senang mendengar ucapan ramah Cakka. Kemudian, mereka segera pamit untuk ke kelas.

Cakka tersenyum menatap kepergian mereka. Ia tatap makanan yang tadi diberikan mereka. Sebenarnya dia sudah makan sedikit sebelum bertanding tadi, tapi rasanya ia lapar lagi karena lelah. Ia ambil satu bungkus makanan tersebut dan segera melahap isinya. Keripik udang yang dibelikan mereka enak juga.

“Ehem…” Ray tiba-tiba berdehem di tengah acara makan Cakka.

Cakka menoleh, namun tetap sibuk mengunyah.

“Duh, yang baru diberikan makanan dari penggemar. Sampai lupa kalau teman-temannya ada di sini. Kita juga lapar, Cakka!” kata Ray sambil nyengir menatap sahabatnya.

Cakka tersenyum mendengar ucapan Ray. “Mereka bukan penggemarku. Mereka pendukung CRAG Team. Jadi, makanan itu untuk kalian juga. Ambil saja kalau mau.”

Begitu selesai berbicara, teman-teman Cakka langsung berebutan mengambil beberapa bungkus makanan yang ada di samping Cakka. Mereka terlihat seperti anak kecil. Cakka sampai tertawa geli melihat kelakuan teman-temannya.

J L J

Seusai makan malam tadi, Cakka langsung mandi agar badannya menjadi segar kembali. Hari ini Cakka memakai baju putih dan bawahan celana pendek hip hop army berwarna cokelat sebagai pakaian malamnya. Setelah mencuci muka, ia keluar dari kamar mandi dan hendak belajar untuk bersiap kalau-kalau ada ulangan mendadak. Tapi, niatnya harus tertunda ketika dia melihat Ayah sudah berdiri di ambang pintu. Beliau segera mengisyaratkan Cakka agar menghampirinya begitu Cakka menatapnya.

Cakka tersenyum kemudian langsung menuruti perintah Ayah. “Ada apa?”

“Apa kau sedang sibuk?” tanya Ayah. Cakka menggelengkan kepalanya.

“Ada seorang teman Ayah yang beberapa bulan ini kembali ke sini. Dia mengajak Ayah makan malam bersama besok. Ayah ingin mengajakmu ikut,” kata Ayah. “Teman Ayah itu akan mengajak anaknya juga. Bagaimana?”

Cakka tersenyum. “Baiklah, Yah. Aku akan ikut.”

Ayah tersenyum, kemudian mengacak-acak rambut Cakka sejenak sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan kamar Cakka. Cakka sampai melongo sejenak melihat perlakuan Ayah. Pelan-pelan ia pegang rambutnya yang sudah berantakan tersebut. Senyumnya mengembang lebar.

“Terima kasih, Yah.” kata Cakka sambil tersenyum. Kemudian, menutup pintu kamar dan mengeluarkan buku-buku pelajarannya. Dengan penuh semangat ia segera belajar sampai jam tidur tiba.

Cerbung | IMPIAN BOLA BASKET PART 3

Impian-Bola-Basket

Alvin menghempaskan tubuhnya di tempat tidur begitu dia sampai di kamarnya. Ia benar-benar kelelahan karena harus membersihkan toilet di sekolahnya. Padahal, menurutnya kejadian itu bukan sepenuhnya salah dirinya. Alvin memang suka tidur terlalu larut saat malam hari karena suka menonton bola atau bermain basket di lapangan. Tapi, kalau gurunya itu tidak mendongeng setiap menjelaskan materi, dia tidak akan tertidur. Sayangnya, ia hanyalah seorang murid. Ibaratnya kalau di kantor ada atasan yang selalu memerintah dan bawahan yang selalu harus menerima apapun dari atasannya, Alvin termasuk orang yang menjadi bawahan. Baca lebih lanjut

Cerbung | IMPIAN BOLA BASKET PART 2

Impian-Bola-BasketIstirahat pertama di sekolah sudah tiba. Pada jam sembilan pagi itu, anak-anak di kelas tujuh jelas langsung berhamburan keluar kelas agar dapat memesan makanan sebelum kantin ramai dengan para siswa dari kelas lain. Masalahnya akan panjang jika mereka harus berdesak-desakan di kantin untuk mendapatkan sarapan yang mereka kehendaki hari ini. Baca lebih lanjut

Cerbung | IMPIAN BOLA BASKET PART 1

Impian-Bola-BasketDUK.. DUK.. DUK..

Suara pantulan tersebut terus menggema di dalam lapangan basket indoor sekolahnya. Siang itu merupakan ekstrakulikuler yang melelahkan. Masalahnya, Pak Jo yang mengajar ekstrakulikuler basket sekaligus guru olahraga mereka menambah jam ekskul demi melihat kemampuan masing-masing anak, terutama yang baru masuk ke dalam tim inti basket. Makanya, beliau memakai waktu hingga jam lima sore untuk pertandingan basket. Seperti biasa, tim inti basket sekolah maju untuk bertanding dengan beberapa siswa siswi lainnya yang berbakat dalam bidang olahraga basket. Pertandingan saat itu benar-benar heboh. Para murid yang tak ikut pertandingan menyemangati anak-anak basket yang berada di lapangan dengan semangat. Baca lebih lanjut

Cerpen | Sahabat Loker

SL

Iqbaal Dhiafakhri, anak itu tengah duduk di pinggir lapangan sambil bersandar pada tiang penyangga atap koridor sambil melamun. Telinganya mendengar suara canda tawa teman-temannya, hidungnya mencium bau aroma persahabatan, hatinya seakan-akan bisa merasakan bagaimana indahnya memiliki teman dekat. Benar-benar menggiurkan seperti kue tar besar buatan Ibu. Padahal, sejak dia duduk di bangku SMP, dia benar-benar tak memiliki satupun teman.

Baca lebih lanjut

Cerpen | Pria Sederhana

p.txtDeva tersenyum sambil memetik buah yang sudah tumbuh di sawahnya. Buah mangga dan apel yang tumbuh karena semangat orang tuanya benar-benar tidak pernah mengecewakan. Mereka selalu menghasilkan buah-buahan yang segar dan bagus untuk dijual maupun untuk dimakan bersama-sama di rumah. Belum lagi sinar matahari yang bersinar di atas sana, juga udara yang terasa sangat sejuk pagi itu. Deva menjadi tambah semangat mengerjakan tugasnya! Benar-benar hari panen yang menyenangkan. Baca lebih lanjut